"Maka titah raja kepada Haman: Segera ambillah pakaian dan kuda itu, seperti yang kau katakan itu, dan lakukan demikian kepada Mordekhai, orang Yahudi, yang duduk di pintu gerbang istana. Sepatah kata pun janganlah kau lalaikan dari pada segala yang kau katakan itu" (Ester 6:10).
Shalom saudara terkasih dalam Kristus.
Kali ini mari kita bahas mengenai kisah Mordekhai.
Bagaimana kisah Mordekhai ini?
Mordekhai adalah seorang Yahudi yang baik hati dan tidak sombong. Ia jugalah yang mengajukan Ester untuk menjadi bakal calon ratu. Dengan tekun ia selalu berjaga di depan pintu istana.
Mordekhai tekun berjaga di depan pintu istana meskipun Ester, wanita yang ia anggap sebagai anaknya sendiri, telah menjadi ratu bagi Raja Ahasyweros. Ia sedikitpun tidak meminta harta dan kekayaan dari sang ratu.
Suatu hari ia mendengar konspirasi dari sida-sida raja untuk membunuh sang raja. Dengan segera ia memberitahukan hal itu kepada Ratu Ester agar dapat diberitahukannya kepada raja. Dan singkat cerita, rencana pembunuhan tersebut pun berhasil digagalkan.
Peristiwa tersebut dan jasa dari Mordekhai pun dicatat oleh raja dalam kitab sejarah, sesuai dengan kebiasaan raja pada saat itu.
Pada saat itu pun Mordekhai tidak meminta imbalan jasa apapun dari raja maupun ratu.
Pada suatu hari, Haman, petinggi raja, berjalan ke depan pintu istana. Pada saat itu, sesuai titah raja, semua orang wajib melakukan hormat sujud kepada Haman.
Semua pegawai istana melakukan hormat, kecuali Mordekhai.
Haman yang tinggi hati itu merasa terhina karena Mordekhai tidak sujud kepadanya.
Maka Haman, yang mengetahui bahwa Mordekhai adalah orang Yahudi, memikirkan tipu muslihat dengan mengadukan kepada raja bahwa ada suku yang tidak menuruti perintah raja (tanpa menyebutkan bahwa titah yang dilanggar hanyalah titah sujud di hadapan Haman) dan mohon raja mengeluarkan titah untuk membunuh semua orang bangsa itu.
Raja mengeluarkan titah kepada Haman untuk melakukan tindakan yang pantas untuk bangsa itu.
Maka Haman mengatas-namakan raja mengeluarkan titah untuk membunuh semua orang Yahudi.
Mengetahui hal itu, Mordekhai langsung berkabung dan menghubungi ratu Ester agar ratu Esther dapat meminta belas kasih sang raja untuk bangsa Yahudi.
Sang ratu pun meminta agar Mordekhai bersama dengan bangsa Yahudi yang masih hidup untul berpuasa agar Tuhan menyertai ratu Ester.
Setelah membunuh banyak orang Yahudi, Haman masih panas hatinya melihat bahwa Mordekhai masih tidak sujud di hadapannya. Maka Haman meminta didirikan tiang untuk menggantung Mordekhai di hadapan raja dan ratu sebagai persembahan dan simbol hukuman bagi bangsa yang melanggar titah raja.
Tuhan tentu tidak tinggal diam melihat doa dan puasa bangsa Yahudi.
Maka suatu malam sebelum rencana menggantung Mordekhai, raja dibuat tidak bisa tidur sehingga raja meminta pegawainya untuk membacakan kitab sejarah.
Dalam kitab itu tercatat jasa Mordekhai menggagalkan pembunuhannya. Ketika raja bertanya mengenai penghargaan apa yang telah diberikan atas jasa itu, pegawai raja mengatakan bahwa atas jasanya, Mordekhai tidak meminta dan tidak diberi penghargaan apa-apa.
Esok harinya, raja memanggil Haman dan menanyakan penghargaan apa yang selayaknya diberikan kepada orang yang kepada siapa raja itu berkenan.
Maka segala cara penghargaan diusulkan Haman kepada raja, tanpa mengetahui bahwa orang yang dimaksud oleh raja itu adalah Mordekhai.
Maka raja memberikan titah kepada Haman untuk melakukan itu kepada Mordekhai. Panaslah hati Haman.
Dan pada malam perjamuan ratu dan raja, sang ratu Ester mengadukan tipu muslihat Haman kepada raja.
Dengan panas hati raja memitahkan pasukan untuk menggantung Haman di tiang yang awalnya didirikan Haman sendiri untuk menggantung Mordekhai.
Hikmat apa yang dapat kita petik dari kisah ini?
1) Lakukan segala sesuatu dengan tulus ikhlas.
Mordekhai melakukan segala hal demi keselamatan dan kenikmatan sang raja dengan tulus ikhlas sehingga pada akhirnya sang raja sendiri yang memberikan hadiah lebih dari apa yang pernah ia bayangkan.
Sama halnya dengan kita. Selalu lakukan segala hal dengan tulus ikhlas. Membantu dengan ikhlas, bekerja dengan ikhlas, dan biarkan Tuhan yang membalas kita berlipat ganda di luar yang kita bayangkan.
2) Jadilah seseorang yang tekun dan takut kepada Tuhan.
Orang yang takut akan Tuhan tidak akan pernah meninggalkan Tuhan dalam segala keputusan yang diambil.
Ketika mengetahui bahwa orang Yahudi dibantai oleh Haman, Mordekhai tetap berpegang teguh kepada pertolongan Tuhan dengan berpuasa.
Kita pun sejatinya harus seperti itu dalam menjalani kehidupan. Jangan pernah melepaskan Tuhan, bahkan jangan sekali-kali sampai berani melawan Tuhan! Kita tidak pantas mempertanyakan Tuhan karena segala hal terjadi itu sudah atas izin Tuhan, dan segala hal yang terjadi itu memiliki tujuan baik dan indah pada waktunya.
3) Tuhan tidak tidur dan tutup mata.
Haman melakukan rencana jahat kepada Mordekhai dan kaumnya, bahkan berencana menggantung Mordekhai di depan raja. Namun, pada malam tepat sebelum Mordekhai akan digantung oleh Haman, Tuhan membuat raja Ahasyweros susah tidur sehingga ia membuka kembali kitab sejarah dan membaca jasa Mordekhai.
Jika bukan Tuhan, siapa lagi yang mampu melakukan skenario indah itu?
Tuhan punya rencana yang baik dalam setiap hidup kita asalkan kita selalu berpegang teguh dan percaya kepada-Nya.
Meskipun hal yang menimpa kita terkesan buruk dan tidak adil bagi kita saat ini, tetaplah yakin bahwa Tuhan tidak tidur. Tuhan memiliki suatu rancangan indah dalam membentuk kita menjadi manusia yang lebih baik lagi sehingga pada akhirnya manusia berkembang menuju kepada kesempurnaan layaknya Allah Bapa adalah sempurna adanya.
4) Jangan tinggi hati/congkak dengan penghargaan yang kita dapatkan.
Haman menjadi tinggi hati setelah raja menaikkan pangkatnya lebih tinggi daripada petinggi raja yang lainnya. Hal itu membuat Haman tinggi hati hingga lupa diri. Rasa tinggi hati itu membuat panas hati Haman ketika melihat Mordekhai tidak sujud menghormatinya. Hal itu akhirnya berujung pada kebinasaan Haman sendiri.
Kita pun harus mampu mengendalikan diri kita ketika berhasil mencapai suatu prestasi, jangan sampai dibutakan oleh gila hormat.
Ketika mata kita sudah dibutakan oleh hal seperti itu, maka kebinasaan tidak jauh dari kita.
Mungkin masih ada banyak hal yang dapat kita pelajari dari kisah Mordekhai ini. Kalian dapat mendalami kisah Mordekhai ini pada kitab Ester bab 2 hingga 7.
Renungkan dan serapi pembelajaran positif dari kisah tokoh Alkitab ini.
Semoga membantu.
Sampai jumpa pada kisah tokoh Alkitab berikutnya.
Tuhan memberkati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar